Senin, 09 Juni 2014

FERTILITAS DAN FEKUNDITAS


FERTILITAS DAN FEKUNDITAS
A.      PENGERTIAN
a.       Fertilitas (fertility) adalah jumlah kelahiran hidup
b.      Fekunditas (fecundability) adalah peluang untuk hamil dalam rentang siklus menstruasi, tanpa menggunakan alat kontrasepsi, dan melakukan aktifitas seksual.
B.      Faktor-faktor yang Memengaruhi Fekunditas
a.       Frekuensi dan waktu hubungan seksual.
Hubungan seksual harus aktif saat mendekati waktu pelepasan telur dari ovarium untuk menghasilkan proses fertilisasi. Probabilitas untuk hamil dan menghasilkan janin yang mampu bertahan terjadi pada 2 hari sebelum ovulasi. Pasangan yang melakukan hubungan seksual pada waktu tersebut memiliki peluang untuk hamil. Fekundabilitas yang tinggi berhubungan dengan seringnya aktifitas seksual. Untuk pansangan yang mengalami kesulitan untuk hamil, penetapan waktu hubungan seksual lebih efektif dibandingkan peningkatan frekuensi hubungan seksual.
b.      Usia.
Kemampuan untuk hamil yang tinggi terjadi pada rentang usia wanita 20tahun. Rendahnya kemapuan untuk hamil diusia lanjut berhubungan dengan penurunan aktifitas hubungan seksual.
c.       Laktasi.
Proses latasi dapat menekan ovulasi dan menyebakan amenore.
d.      Infeksi pada pelvis.
Merupakan penyebab utama dalam menurunkan kemampuan untuk hamil dan  sterilisasi pada wanita.
e.      Nutrisi.
Status nutrisi dan keseimbangan energi dapat mempengaruhi kemampuan untuk hamil.
f.        Aktifitas.
Aktifitas yang intens dan berat dapat mempengaruhi wanita untuk hamil, berhubungan dengan anovulasi dan amenorea terutama pada aktifitas lari meraton, balet, dan senanm.
g.       Obesitas.
Wanita dengan obesitas sulit hamil karena tidak seimbangnya fungi hormonal endokrin.
h.      Kontrasepsi oral.
Pengaruh hormon endokrin
i.        Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi fertilitas seperti obat tiroid, antidepresan, transquilizer, dan obat asma.
j.        Faktor prenatal.
k.       Gaya hidup.
l.        Paparan tempat kerja.

Referensi:Kesehatan reproduksi remaja dan wanita, eny kusmiran, salemba medika,bandung 2011. Hal 115-117.

PERILAKU HIDUP SEHAT



PERILAKU HIDUP SEHAT
A.     PENGERTIAN
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2007, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran, sehingga anggota keluarga  atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.
B.     Manfaat PHBS
Manfaat PHBS secara umum adalah terciptanya kondisi lingkungan dan pribadi yang sehat. Yang dengan pribadi-pribadi dan lingkungan yang sehat tersebut nantinya akan banyak hal yang bisa dilakukan dan memberi manfaat, baik bagi keluarga maupun masyarakat luas.
a.       Bagi Keluarga
1)       Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.
2)      Anak tumbuh sehat dan cerdas.
3)      Anggota keluarga mampu giat bekerja.
4)      Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditunjuk untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
b.      Bagi Masyarakat
1)      Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.
2)      Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan dan penghindaran dari ancaman penyakit.
3)      Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban, ambulan desa dan lain-lain.
C.     PHBS di Rumah Tangga
Praktek PHBS dalam lingkup yang paling kecil adalah keluarga atau rumah tangga. Dalam rumah tangga tindakan PHBS yang harus dilakukan adalah memperdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. PHBS di rumah tangga di lakukan untuk mencapai rumah tangga yang ber-PHBS. Sedangkan rumah tangga ber-PHBS adalah rumah tangga yang paling tidak melakukan 10 PHBS di rumah tangga tersebut, antara lain;
·        Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
·        Memberi bayi asi ekslusif
·        Menimbang balita setiap bulan
·        Menggunakan air bersih
·        Mencuci tanggan dengan air bersih dan sabun
·        Menggunakan jamban sehat
·        Memberantas jentik di rumah sakali seminggu
·        Makan buah dan sayur setiap hari
·        Melakukan aktifitas fisik setiap hari
·        Tidak merokok di dalam rumah

D.     Kebersihan Rumah
Penting bagi pertumbuhan dan kesehatan anak adalah lingkungan rumah sebagai tempat dimanaa dia tumbuh. Rumah merupakan tempat tinggal bagi suatu keluarga yang berfungsi sebagai tempat perlindungan untuk memberi keamanan, kenyamanan tempat istirahat, tempat menjalin hubungan antar anggota keluarga, tempat pengembangan anak, penyediaan makanan keluarga termasuk mandi, mencuci dan sebagainya. Oleh karena itu keberadaan rumah yang sehat, aman, serasi dan teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan  rumah dapat terpenuhi dengan baik.

E.      Rumah Sehat
Rumah sehat adalah rumah yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya, sehingga mereka dapat hidup dan beraktifitas secara optimal. Adapun ciri-ciri rumah sehat antara lain:
·        Lantai tidak tembus air dan bersih
·        Memiliki jendela dan lubang angin permanen
·        Halaman bersih dan rapi
·        Memiliki sarana air bersih, jamban, saluran limbah, tempat sampah
·        Memiliki pohon pelindung atau peneduh
Referensi:
Bahaya, manfaat dan tips alternatif. Sunarti , hanggar kreator, yogyakarta. 2012, hal 89-94.




HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Hyperemesis Gravidarum
(mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil)

Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai menggangu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi.


A.     Etiologi
Sebab pasti belum diketehui, frekuensi kejadian 2/1000 kehamilan. Faktor predisposisi yang dikemukakan :
1)      Sering terjadi pada primigravida, molahidatidosa, diabetes , dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG.
2)      Faktor organik karena masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik.
3)      Faktor psikologik keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan , rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tanggungjawab, dan sebagainya.
4)      Faktor endokrin lainya hipertiroid, diabetes dan lain-lain.

B.     Gejala dan Tingkat
Kesepakatan batas muntah lebih dari 10 kali dan apabila keadaan umum ibu terpengaruh maka disebut hiperemesis.
1)      Tingkat I : Ringan
·         Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah
·         Tidak mau makan
·         Berat badan turun
·         Rasa nyeri di epigastrium
·         Nadi sekitar 100x/i
·         Tekanan darah turun
·         Turgo kulit kurang
·         Lidah kering
·         Mata cekung
2)      Tingkat II : Sedang
·         Mual muntah yang hebat  menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah
·         Lemah
·         Apatis
·         Turgor kulit mulai jelek
·         Lidah kering dan kotor
·         Nadi kecil dan cepat
·         Suhu badan naik
·         Ikterus ringan
·         Berat badan turun
·         Mata cekung
·         Tensi turun
·         Hemokonsentrasi
·         Oligurin dan konstipasi
·         Asetonuria dan dari nafas keluar aseton
3)       Tinggkat III : Berat
·         Keadaan umum jelek
·         Kesadaran sangat menurun
·         Samnolen sampai koma
·         Nadi kecil, halus dan cepat
·         Dehidrasi hebat
·         Suhu badan naik
·         Tensi turun sekali
·         Ikterus
C.     Patologis
1.      Hepar  : pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis .
2.      Jantung : jantung atrofi, kecil dari biasa.
3.      Otak : terdapat becak pendarahan pada otak.
4.      Ginjal : tampak pucat , dengenerasi lemak pada tubuli kontorti.
D.     Penanganan
1.      Pencegahan dengan informasi dan eduksi.
2.      Dinasehatkan agar tidak terlalu cepat bangun dari tempat tidu, sehingga tercapai adaptasi aliran darah menuju susunan saraf pusat.
3.      Anjurkan makan dengan porsi kecil tapi lebih sering. Makanan yang menimbulkan mual dan muntah dihindari.
4.      Terapi obat menggunakan sedativa ringan luminal 3x30mg, vitamin (B1&B6), anti muntah, anatasida dan anti mulas.
5.      Nasehat pengobatan : banyak minum dan hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
6.      Untuk tingkat I dan II harus dirawat inap d rumah sakit:
v  Istirahat baring
v  Isolasi dan therapi psikologik
v  Penambahan cairan
v  Observasi cairan yang masuk dan keluar dengan pemasangan kateter
v  Observasi keadaan umum dan tanda vital
v  Beri obat-obatan sda.


Referensi:

Asuhan kebidanan pathologi. Esti nugraheny,S.S.T. pustaka rihama, sewon,bentul,yogyakarta 2009 hal 57-60